Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Berita >Ajari Anak Percaya Diri dengan 5 Kalimat Ini

    Ajari Anak Percaya Diri dengan 5 Kalimat Ini

    Waktu: 2026-07-29 16:16:50 Sumber: Vista Notebook Penulis: Kesehatan

    Ajari Anak Percaya Diri dengan 5 Kalimat Ini

    1. "Aku tidak paham" atau "aku butuh bantuan"

    Psikiater anak dan remaja di Psychiatry Connection, Nevada, dr. Sid Khurana, mengatakan kepada Good Housekeeping banyak anak merasa malu mengakui bahwa mereka belum memahami sesuatu. Padahal, kemampuan meminta bantuan merupakan bagian penting dari membangun kepercayaan diri anak.

    "Sangat penting bagi anak untuk memiliki kepercayaan diri mengatakan hal ini, serta memiliki kesadaran diri dan harga diri bahwa tidak apa-apa jika mereka belum memahami suatu instruksi.Dan tidak apa-apa meminta seseorang untuk menjelaskannya,” ujar dr. Sid dilansir dari Good Housekeeping.

    Orangtua dapat melatih anak dengan membiasakan kalimat seperti, "Bapak, aku belum paham," atau "Ibu, bisa tolong jelaskan sekali lagi?".

    Ketika anak bertanya, respons yang sabar dari orang tua juga membantu mereka merasa aman untuk terus belajar.

    2. "Aku bisa mencari jalan keluarnya"

    Keinginan orangtua untuk segera menyelesaikan masalah anak sering kali muncul secara spontan. Namun, menurut pendiri platform parenting Moms on Call, Jennifer Walker, anak sebaiknya dibiasakan percaya bahwa mereka mampu menghadapi tantangan mereka sendiri.

    Ia menyarankan orangtua untuk sering mengucapkan kalimat seperti "Kamu pasti bisa, Nak". Seiring berjalannya waktu, kalimat tersebut akan berubah menjadi suara batin positif yang dimiliki anak.

    3. "Aku sedang merasa..."

    Kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi juga menjadi bagian penting dari rasa percaya diri. Direktur Mental Health and Wellness Mingo Health Solutions, Lakiesha K. Oliver memaparkan bahwa anak perlu mengetahui bahwa semua emosi boleh dirasakan dan diungkapkan.

    "Kemampuan mengekspresikan perasaan adalah fondasi utama kesehatan mental dan kesejahteraan," tutur Lakiesha.

    Sementara itu, dr. Sid menambahkan bahwa anak juga perlu belajar menerima emosi yang tidak menyenangkan. Dengan mengungkapkan rasa marah, sedih, atau kecewa, anak bisa belajar mengelola emosi dengan lebih sehat dan tidak memendamnya seorang diri.

    4. "Pak, Bu, aku boleh lihat ini?"

    Kalimat di atas memang tampak sangat sederhana. Namun, kalimat sederhana ini menjadi semakin penting di era digital ketika anak-anak tumbuh besar bersama teknologi.

    Menurut Direktur Eksekutif Health-e-Habits, Jim Festante, anak perlu merasa nyaman meminta bantuan ketika menemukan sesuatu yang membingungkan atau mencurigakan di internet.

    "Ketika anak membuka pesan phishing, menerima permintaan mengikuti akun yang mencurigakan, mengobrol dengan orang asing, atau tanpa sengaja meneruskan tautan spam, reaksi pertama mereka biasanya adalah menghapus semua buktinya karena malu atau takut perangkat mereka disita," ujar Jim,.

    Oleh karena itu, orangtua sebaiknya membangun suasana yang membuat anak tidak takut untuk melapor, "Bapak, Ibu, aku melihat sesuatu yang aneh di internet dan tidak tahu itu apa."

    5. "Aku berarti"

    Anak perlu memahami bahwa dirinya memiliki nilai sebagai individu, bukan karena prestasi atau pencapaiannya. Untuk menanamkan pola pikir ini pada anak, orangtua dapat membiasakan anak menyadari bahwa dirinya berarti.

    Orangtua, misalnya, dapat mengajak anak berbagi momen ketika anak merasa telah membantu atau memberi arti bagi orang lain. Dari kebiasaan kecil seperti itu, kepercayaan diri dapat tumbuh secara perlahan dan bertahan hingga dewasa.

    • Sebelumnya: Tangis Haru Warnai Penutupan MPLS di Banyumas, Siswa Sungkem dan Basuh Kaki Orangtua
    • Selanjutnya: Dua King Kobra Ditemukan Emak-emak Saat Sedang Kawin di Jonggol, Keduanya Mati Setelah Dievakuasi

      Artikel Terkait

      • Singapura Jadi Tempat Belajar Antikorupsi Kepala Daerah RI, Bagaimana Rekam Jejaknya?
      • Viral Banner "Halal Gantung Maling" di Wonosobo, Imbas Rentetan Kasus Curanmor
      • Katak Australia Punya Trik Visual Unik untuk Kelabui Predator
      • Pesta Hidup Berseri Diramaikan 500 Peserta, Gaungkan Pentingnya Gaya Hidup Sehat
      • Divonis Penjara 10-13 Tahun, 3 Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN Pikir-pikir Ajukan Banding
      • Kejari Tangsel Setor Uang Rampasan Rp 14,2 Miliar Kasus Pinjol ke Kas Negara
      • Pengalaman Dedi Kurniawan Kuliah Kedokteran Gigi di Jerman: Buku Gratis, Rp 7 Juta per Semester
      • Revitalisasi Keraton Solo Sasar Museum: Penataan Ruang Pamer Dibuat Berstandar Internasional
      • Menyoal Rencana DJP Gandeng Babinsa TNI Awasi Kepatuhan Pajak
      • Demam Piala Dunia 2026, Haaland dan Lionel Kini Jadi Nama Favorit Bayi

        Lihat Sekilas

      • Anak Peneror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pindah Sekolah
      • [HOAKS] Video Sri Mulyani Berbagi Rezeki Rp 60 Juta
      • Respons Tuchel Soal Kritik Donald Trump Usai Inggris Disingkirkan Argentina
      • Jadi Spider-Man Bukan Jaminan, Tom Holland Curhat Kirim DM Erling Haaland tapi Tak Dibalas
      • Statistik Perancis di Piala Dunia 2026: Favorit Juara di Awal, Melempem di Akhir
      • Divonis Penjara 10-13 Tahun, 3 Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN Pikir-pikir Ajukan Banding
      • Nelayan di Gianyar Hilang saat Melaut, Basarnas Kerahkan Drone Thermal untuk Pencarian
      • Hadapi Kekeringan Dampak El Nino, Cak Imin Singgung Pola Irigasi dan Kesehatan
      • 6,07 Juta Turis Asing ke Indonesia Januari hingga Mei 2026
      • Pembunuh ASN Bangkalan Tak Kunjung Ditangkap, Keluarga Akan Beri Polisi Petunjuk Baru
      • Copyright © 2026 Powered by Ajari Anak Percaya Diri dengan 5 Kalimat Ini,Vista Notebook   sitemap