Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Hiburan >Milisi Irak Tawarkan Imbalan Rp 179 M untuk Bunuh Trump

    Milisi Irak Tawarkan Imbalan Rp 179 M untuk Bunuh Trump

    Waktu: 2026-09-12 18:21:19 Sumber: Vista Notebook Penulis: Teknologi

    Kelompok milisi Irak menawarkan imbalan sebesar US$ 10 juta, atau setara Rp 179,4 miliar, untuk siapa saja yang mampu membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Seruan pembunuhan dengan tawaran imbalan itu disebut sebagai "kutukan" bagi Presiden AS tersebut.

    Tawaran tersebut, seperti dilansir Press TV dan Middle East Monitor, Sabtu , diumumkan oleh Kelompok Perlawanan Islam di Irak, berkaitan dengan pembunuhan dua komandan yang dihormati, termasuk komandan terkemuka Iran, oleh AS beberapa waktu lalu.

    Kelompok Perlawanan Islam di Irak merupakan komponen kunci dalam Poros Perlawanan, dan terlibat aktif dalam perang antara Iran-AS dengan melancarkan serangan terhadap aset-aset militer AS di kawasan tersebut.

    Dalam pengumuman yang dirilis pada Kamis , Kelompok Perlawanan Islam di Irak yang memayungi berbagai faksi perlawanan tersebut mengatakan bahwa mereka mengalokasikan imbalan US$ 10 juta yang dikumpulkan dari sumbangan para anggota dan pendukung kelompok tersebut.

    Kelompok Perlawanan Islam di Irak mengatakan bahwa tawaran imbalan itu ditujukan bagi "siapa pun yang membunuh penjahat Trump, atau bagi siapa pun yang memutuskan untuk mengalokasikan atau menyalurkan imbalan tersebut kepada individu, kelompok, entitas, atau institusi tertentu".

    Dikatakan oleh Kelompok Perlawanan Islam di Irak bahwa "kesombongan kriminal" Trump terkait pembunuhan "komandan-komandan kemenangan", Mayor Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, menjadi "tanda paling nyata dari runtuhnya moral pemerintah AS".

    Mendiang Jenderal Soleimani merupakan komandan Pasukan Quds Iran, sedangkan Al-Muhandis merupakan wakil komandan Pasukan Mobilisasi Populer Irak. Keduanya tewas dalam serangan drone AS di luar Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020, yang diperintahkan langsung oleh Trump.

    Pernyataan Kelompok Perlawanan Islam di Irak itu juga menegaskan bahwa "para penindas tidak akan pernah merasakan kedamaian".

    "Orang-orang yang bebas di seluruh dunia akan terus memburu pembunuh anak-anak dan ilmuwan. Para tiran tidak akan pernah merasakan kedamaian, dan sang penjahat tidak akan menemukan tempat berlindung yang aman dari kemurkaan orang-orang yang terhormat," tegas Kelompok Perlawanan Islam di Irak.

    "Pembalasan adalah janji yang mengikat bagi para pejuang, dan darah para syuhada akan tetap menjadi kutukan yang mengguncang takhta orang-orang yang angkuh hingga para agresor dikalahkan dan benteng-benteng tirani runtuh," imbuh pernyataan kelompok tersebut.

    Pengumuman ini muncul di tengah fase baru yang intens dalam perang antara Iran melawan AS dan Israel, yang dimulai pada 28 Februari. Sempat terhenti selama gencatan senjata, pertempuran kembali berkobar menyusul perselisihan mengenai pengaturan atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk energi global.

    [Gambas:Video 20detik]

    • Sebelumnya: Pesan Vicente del Bosque dan Andres Iniesta Jelang Spanyol Vs Argentina
    • Selanjutnya: Shin Tae-yong Jawab Nasib Andritany dan Rumor Marselino Ferdinan

      Artikel Terkait

      • Warga Minta JPO Tendean Cepat Dibangun Lagi, Sebut Zebra Cross Tak Cukup Aman
      • Ricuh Baku Hantam di DPRD Riau, Polisi Dalami Pemicu, Gali Keterangan Saksi dan Cek CCTV
      • Eks Kepala PPATK Nilai Indikasi TPPU di Kasus Febrie Adriansyah Cukup Kuat
      • Vonis Tiga Otak Pembunuhan Kacab Bank BUMN: Keluarga Kecewa, Merasa Belum Adil
      • Hotman Paris Sebut Kasus ASABRI Mulai Sebelum Febrie Adriansyah Jadi Jampidsus
      • 2 Jambret Bersajam Sasar Lansia di CFD Rasuna Said, 1 Pelaku Ditangkap
      • 3 Perwira Senior dan 5 Insinyur Kementerian Pertahanan Irak Diduga Korupsi Proyek Rp 1,28 Triliun
      • Bamsoet Dorong Tarung Derajat Jadi Pilar Ketahanan Mental Generasi Muda
      • Bareskrim Serahkan 3 Tersangka Pembunuh Polisi di Katingan ke Polda Kalteng
      • Ibu Penyiksa Anak Tirinya Berusia 4 Tahun hingga Tewas di Bekasi Jadi Tersangka

        Lihat Sekilas

      • Pelaku Bom Rakitan di Padang Belajar dari Internet, Polisi Tegaskan Bukan Jaringan Teror dan “Lone Wolf”
      • Bantu SD Bengkulu Selatan, IDE Preneur Gelar Golf Charity 2026
      • Kebakaran Landa Gunung Biru di Mojokerto, Jalur Pendakian Bukit Cendono Ditutup Sementara
      • Kontroversi Memorial Perbudakan Philadelphia, Saat Sejarah Kelam Dibungkam
      • [KLARIFIKASI] Video Ini Bukan Kerusuhan di Paris usai Laga Perancis Vs Maroko
      • Mendagri Ungkap Strategi Cegah Korupsi di Daerah Lewat Sistem-Integritas
      • Pasca-ledakan Gudang Amunisi Madiun, RSUD Caruban Dijaga Ketat dan Akses Publik Dibatasi
      • Buntut Kecelakaan Maut, Sejumlah U-turn Ilegal di Jalur Pantura Indramayu Segera Ditutup
      • Di Depan Prabowo, Menkop Ingin Koperasi Kembali Jadi Sokoguru Perekonomian
      • KPK Buka Penyidikan Baru Terkait Kasus Bupati Rejang Lebong
      • Copyright © 2026 Powered by Milisi Irak Tawarkan Imbalan Rp 179 M untuk Bunuh Trump,Vista Notebook   sitemap