Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Otomotif >MBG Watch Sebut Penerima MBG Mestinya Hanya 26 Juta Orang

    MBG Watch Sebut Penerima MBG Mestinya Hanya 26 Juta Orang

    Waktu: 2026-09-12 17:08:14 Sumber: Vista Notebook Penulis: Kesehatan

    JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota MBG Watch, Media Wahyudi Askar, mengungkapkan bahwa jumlah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya hanya berkisar di angka 26 juta jiwa, lebih sedikit dari target penerima MBG yang mencapai 82 juta jiwa.

    "Kalau seandainya penerimanya benar, masyarakat miskin 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), kemudian ibu hamil, kemudian mereka yang betul-betul membutuhkan, balita, itu jumlahnya hanya 26 juta penerima," kata Media dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (16/7/2026).

    MBG Watch adalah koalisi masyarakat yang mengadvokasi kebijakan pelaksanaan MBG.

    Menurut Media Wahyudi Askar, pembatasan target penerima MBG tidak hanya membuat program menjadi lebih tepat sasaran, tetapi juga dapat memangkas anggaran secara signifikan tanpa harus mengganggu pos anggaran penting lainnya seperti dana pendidikan.

    "Kalau dilakukan dengan benar, simulasi kami itu hanya 67 triliun per tahun, dan itu semuanya ya. Kalau bisa bertahap Bapak-Ibu, mungkin hanya butuh 10 triliun dulu mungkin. Jangan juga ambil dari dana pendidikan, ambil dari dana pajak progresif yang lain," jelasnya.

    Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) tersebut mendorong agar pemerintah memanggil Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membuka data secara transparan demi menyelaraskan basis penerima program.

    "Itu BPS panggil saja, bapak-ibu. Panggil saja, buka semua datanya. Dan harapannya mereka jujur ya. Kalau mereka jujur, harusnya sama datanya dengan saya, karena saya olah data BPS," ujar Media.

    Kendati demikian, ia pesimistis formula yang ia tawarkan dapat diterapkan dalam waktu dekat.

    Menurutnya, program yang berjalan saat ini sudah terlanjur melibatkan berbagai institusi dan organisasi di lapangan, sehingga ruang untuk melakukan evaluasi menjadi sangat sempit tanpa adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah.

    Media Wahyudi juga mengkritik keras jalannya program MBG saat ini yang dinilainya telah mengabaikan aspek metodologi ilmiah dan data statistik yang riil.

    "Jadi saya, saya terus terang mungkin setop di sini Bapak-Ibu. Ini sudah sehabis-habis upaya kami. Kalau saya pribadi Bapak-Ibu, saya ngolah data statistik BPS itu sejak tahun 2014, saya sampai hafal datanya luar-dalam. Tapi ini kebijakan tidak berbasis data, tidak berbasis sains," tegasnya.

    Komisi IX DPR bakal Bentuk Panja

    Komisi IX mewacanakan akan membentuk panitia kerja tata kelola MBG guna menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul dari implementasi program MBG.

    "Ya, (panja) ini akan kami bahas di rapat internal komisi dan saya rasa ini masukan yang sangat baik," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, (16/7/2026).

    Charles mengatakan langkah tersebut diambil lantaran belum adanya peta jalan yang jelas pada program MBG.

    "Harapan kami dengan adanya panja tersebut, kita nanti bisa membahas ini jauh lebih spesifik dan komprehensif, dan menghasilkan bukan saja rekomendasi kepada pemerintah, tetapi juga sebuah roadmap bahwa program ini harus dijalankan seperti apa," ujarnya.

    Charles mengatakan bahwa pembentukan Panja ini menjadi krusial mengingat besarnya anggaran yang dialokasikan serta luasnya cakupan penerima manfaat di seluruh Indonesia.

    "Jumlah penerima manfaatnya berapa sih sebetulnya? Karena kalau kita mengacu pada tujuan awal program ini, memperbaiki kondisi gizi anak, mengurangi angka stunting, maka tidak semua anak harus diberikan makan," tegasnya.

    • Sebelumnya: Komjak Sebut Penyidik KPK Bisa Dilibatkan Usut Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
    • Selanjutnya: 4 Hari Bertahan di Laut, Bocah Korban KM Nurul Salsa Saksikan Ibunya Meninggal di Atas Pelampung

      Artikel Terkait

      • Kejagung Minta Kejati Se-Indonesia Hentikan Pengumpulan Data terkait MBG
      • KPK Usul Rekening Dana Otsus Papua Dipisah dari APBD, Ini Tujuannya
      • Penipuan Tiket Kapal Marak di Sikka, Pelni Imbau Warga Beli melalui Kanal Resmi
      • PNS Pemkab Bogor Tersangka Korupsi Proyek RSUD, Negara Rugi Rp 9 M
      • Sumur Mengering, Warga Blitar Terpaksa Beli Air untuk Kebutuhan Dasar
      • Mantan Perawat Jepang Diduga Bunuh Pasien dengan Mencampurkan Feses ke Infus
      • Penipuan Tiket Kapal Marak di Sikka, Pelni Imbau Warga Beli melalui Kanal Resmi
      • Istana dan Gerindra Kompak Minta Hotman Jangan Kaitkan Febrie dengan Prabowo
      • Farhan Larang Kegiatan Bakar Sampah di Sekitaran Bandara Husein Sastranegera Bandung
      • 7 Fakta OTT Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, Sempat Nobar Bola hingga Sita Ratusan Juta

        Lihat Sekilas

      • Viral Penjual Kolesom Jumbo di Jaksel Disebut Beralkohol, Apa Itu?
      • Wamenag: Pencegahan LGBT Akan Masuk Kurikulum Mulai Kelas 4 SD
      • Kertajati Didorong Menjadi Pengungkit Ekonomi Kawasan Rebana
      • Pelaku Penembakan Brutal di Bar Canggu Ngaku Emosi karena Mabuk
      • 10 Perusahaan Properti dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar di RI
      • Waka Komisi III DPR Kritik Hotman soal Febrie: Gak Usah Bawa-bawa Presiden
      • Polisi Tunda Pemeriksaan Siswa Perakit Bom di Padang, Tunggu Pemulihan Psikologis
      • Anjasmara Minta Maaf, Tegaskan Ucapannya Saat Live Bukan Ditujukan pada Syifa Hadju
      • Polisi Kembali Periksa Ketua DPRD TTU Terkait Kasus Intimidasi terhadap Dokter Icha
      • PNS Pemkab Bogor Tersangka Korupsi Proyek RSUD, Negara Rugi Rp 9 M
      • Copyright © 2026 Powered by MBG Watch Sebut Penerima MBG Mestinya Hanya 26 Juta Orang,Vista Notebook   sitemap