Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Berita >Isu Palestina dan Kekalahan Argentina

    Isu Palestina dan Kekalahan Argentina

    Waktu: 2026-09-12 18:17:50 Sumber: Vista Notebook Penulis: Teknologi

    Begitulah akhir perjalanan Lionel Messi bersama Tim Tango di final Piala Dunia. Saat peluit panjang berbunyi mengakhiri pertandingan, ia pun lesu. Kealanya tertunduk, matanya basah. Di papan skor terpampang hasil yang menyakitkan: Spanyol menang tipis: 1-0

    Bagi Messi, kekalahan itu bukan sekadar gagalnya mempertahankan gelar juara dunia. Di usia 39 tahun, final itu terasa seperti panggung terakhir di Piala Dunia.

    Empat tahun lagi, usia mungkin akan menjadi lawan yang lebih sulit ditaklukkan daripada sebelas pemain di lapangan. Namun, sebelum pertandingan dimulai, media sosial sudah lebih dulu memainkan "pertandingannya" sendiri.

    Hal itu bermula ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya kepada Argentina. Linimasa pun gegap gempita. Sebagian warganet langsung mengaitkannya dengan sikap pemerintah Spanyol yang selama ini lebih vokal mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan menunjukkan dukungan kepada Palestina.

    Meme bermunculan. Sindiran bertebaran. Teori-teori jenaka diproduksi tanpa henti. Bahkan, sebagian pendukung Argentina buru-buru menegaskan bahwa dukungan Netanyahu tidak mewakili sikap rakyat Argentina yang banyak juga mengecam tragedi kemanusiaan di Gaza.

    Benar atau tidak, begitulah cara media sosial bekerja. Di sana, fakta sering kali bertemu imajinasi. Lalu lahirlah apa yang oleh orang Jawa disebut ilmu gotak-gatuk, apa pun dicocok-cocokkan agar tampak saling berkaitan.

    Sebelumnya, fenomena serupa muncul menjelang semifinal. Ketika mantan Presiden Joko Widodo mengaku mendukung Prancis di semifinal, tapi kemudian justru tersingkir oleh Inggris.

    Cocokologi pun berkembang. Ada yang berseloroh bahwa nasib Partai Solidaritas Indonesia pada Pemilu 2029 akan mengikuti jejak Prancis karena sama-sama "didukung Jokowi".

    Tentu saja semua itu hanya guyonan. Tetapi guyonan di media sosial sering kali dianggap lebih menarik daripada kenyataan. Padahal, ada kisah lain yang jauh lebih indah daripada semua teori tersebut.

    Sembilan belas tahun lalu, Barcelona bersama UNICEF menggelar pemotretan amal. Mega Bintang Barca, Lionel Messi diminta menggendong sekaligus memandikan seorang bayi berusia enam bulan. Tak seorang pun saat itu menyangka bayi mungil itu kelak akan berdiri di hadapannya pada final Piala Dunia. Bayi itu bernama Lamine Yamal.

    Adegan tersebut lama terlupakan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Yamal menjelma menjadi salah satu talenta terbaik dunia, adegan dalam selembar potret itu kembali viral. Kebetulan atau takdir? Senin dinihari tadi, yang dulu memandikan dan dimandikan akhirnya saling berhadapan dalam laga terbesar di dunia sepak bola.

    Ketika pertandingan usai, Yamal tidak larut dalam pesta kemenangan. Ia justru menghampiri Messi. Keduanya berpelukan cukup lama. Bagi saya, momen itu jauh lebih bermakna daripada semua teori gotak-gatuk yang memenuhi linimasa. Netanyahu boleh mendukung siapa pun. Jokowi boleh menjagokan tim mana pun. Warganet bebas membuat ribuan teori dan cocokologi.

    Tetapi sepak bola selalu memiliki cara untuk mengingatkan kita bahwa pertandingan terbesar sesungguhnya bukan tentang siapa mendukung siapa. Melainkan tentang bagaimana seorang manusia tetap menghormati manusia lainnya-bahkan ketika berdiri di sisi yang berlawanan.

    Simak juga Video 'Argentina Gagal Juara Piala Dunia, Fansnya Rusuh di Buenos Aires':

    [Gambas:Video 20detik]

    • Sebelumnya: 7 Fakta Anak Angkat Bunuh Ayah di Nganjuk, Dendam Pola Asuh Keras Sejak Kecil
    • Selanjutnya: Setahun Eksploitasi Bug PayPal untuk "Curi" Laptop, Pelaku Akhirnya Serahkan Diri ke Polisi

      Artikel Terkait

      • Brimob Polda Metro Gagalkan Aksi Vandalisme Fasilitas Umum di Jaktim
      • Prabowo Diminta Teken Perpres Rencana Aksi Nasional HAM, Istana Akan Cek dan Jadi Catatan
      • Nusron Ancam Pecat Pegawai BPN yang Telat Ukur Tanah
      • Ini Risiko Terburuk jika Komstir Motor Oblak Tak Segera Diperbaiki
      • 5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini
      • DPRD Jabar Usukan Reaktivasi SPP SMA/SMK Negeri, Dedi Mulyadi Ingatkan Potensi Polemik
      • Menyusuri Kampung Pecantilan di Ujung Cirebon, Minim Perhatian Pemprov Jabar hingga Diusulkan Gabung Jateng
      • Polri Jelaskan Alasan Tetapkan Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Meski Belum Pernah Diperiksa
      • Patroli Gabungan, Petugas Tutup 20 Lubang Tambang Emas Ilegal di Kawasan PT Antam Bogor
      • Kini Sejajar Indonesia, Vietnam dan Filipina Naik Kelas jadi Negara Menengah Atas

        Lihat Sekilas

      • Iran Akui Serang 2 Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz
      • Catatan Positif Penjualan Daihatsu di Juni 2026
      • DJP Sebut Pajak Marketplace Tak Bikin Harga Barang Naik, Ini Penjelasannya
      • Kebiasaan Duduk Lama Saat Scrolling Bisa Ganggu Fungsi Otak, Olahraga Jadi Penyeimbang
      • Pembayaran Gaji PPPK Paruh Waktu Pemkot Pangkalpinang Wajib Lampirkan Pelunasan Pajak Kendaraan
      • 1.299 WNA Kunjungi Grobogan dengan Naik Kereta Pada Januari-Juni 2026
      • Ratusan Mitra MBG Brebes Beroperasi, BGN Dorong Pengelolaan Sampah Maggot
      • Bantah Main Judi Online, Camat Madiun Berdalih Rapat Paripurna Belum Dimulai
      • Anggaran Bangun Ulang JPO Tendean Belum Ada, Pramono Cari Dana CSR hingga KLB
      • Argentina Si Antagonis Piala Dunia, Kenapa Dibenci Banyak Orang?
      • Copyright © 2026 Powered by Isu Palestina dan Kekalahan Argentina,Vista Notebook   sitemap