Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Berita >Google Borong Pasokan Listrik dari Pembangkit Surya Raksasa

    Google Borong Pasokan Listrik dari Pembangkit Surya Raksasa

    Waktu: 2026-07-29 16:17:23 Sumber: Vista Notebook Penulis: Teknologi

    Google dilaporkan akan "menyedot" seluruh produksi listrik tahap awal dari proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Steel River di Arkansas, Amerika Serikat, mulai 2029.

    Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pasokan energi bersih di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat ekspansi layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Google akan membeli seluruh output awal pembangkit berkapasitas 1,6 gigawatt (GW) dari proyek yang dikembangkan perusahaan energi Cypress Creek Energy.

    Meski demikian, Google tidak menerima pasokan listrik secara langsung dari pembangkit listrik. Listrik yang dihasilkan Steel River akan tetap disalurkan ke jaringan listrik umum di Arkansas.

    Kesepakatan antara Google dan Cypress Creek menggunakan skema Virtual Power Purchase Agreement (VPPA) atau perjanjian pembelian listrik virtual.

    Melalui skema ini, listrik tetap dijual ke jaringan listrik umum. Sementara Google memberikan komitmen pembelian jangka panjang yang membantu pengembang memperoleh pendanaan proyek.

    Model tersebut memungkinkan perusahaan teknologi memperoleh manfaat dari penambahan kapasitas energi terbarukan tanpa harus membangun maupun mengelola pembangkit listrik sendiri.

    Namun, karena listrik masuk ke jaringan umum, tidak semua listrik yang digunakan pusat data Google berasal langsung dari proyek Steel River. Pasokan listrik yang diterima fasilitas Google tetap bergantung pada sumber energi yang tersedia di jaringan pada saat itu.

    Pusat data Google juga nantinya tetap memperoleh pasokan listrik dari jaringan regional yang terdiri atas berbagai sumber energi, seperti batu bara, gas alam, tenaga nuklir, serta energi terbarukan.

    Dengan skema tersebut, Google mendukung pembangunan pembangkit energi terbarukan tanpa memiliki aset pembangkit maupun mengoperasikannya secara langsung.

    Selain pembangkit surya berkapasitas 1,6 GW, alokasi Google juga mencakup sistem penyimpanan energi berbasis baterai berkapasitas sekitar 2 GW. Kapasitas tersebut disebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 315.000 rumah.

    Adapun keseluruhan proyek Steel River dirancang memiliki kapasitas hingga 2,46 GW pembangkit surya dan 2,94 gigawatt-jam (GWh) penyimpanan baterai. Pembangkit listrik ini akan selesai dibangun pada 2029.

    Konsumsi listrik Google terus meningkat

    Langkah Google mengamankan pasokan energi bersih dilakukan di tengah meningkatnya konsumsi listrik perusahaan.

    Laporan menyebut konsumsi listrik Google beserta emisi berbasis jaringan listrik meningkat sekitar 37 persen sepanjang 2025, seiring ekspansi infrastruktur AI dan pusat data.

    Selain mengandalkan tenaga surya, Google sebelumnya juga telah menandatangani sejumlah perjanjian pembelian listrik dari pembangkit tenaga air dan proyek energi bersih lainnya untuk mendukung target pengurangan emisi karbon.

    Google bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang berinvestasi melalui kontrak energi terbarukan, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Winbuzzer.

    Meta sebelumnya dilaporkan menandatangani perjanjian pembelian listrik dari proyek pembangkit surya Waterloo Solar di Texas.

    Sementara Amazon memilih jalur berbeda dengan mengakuisisi proyek pembangkit tenaga surya Sunstone di Oregon melalui anak usahanya.

    Berbeda dengan Amazon yang mengambil alih kepemilikan proyek, Google memilih mendukung pembangunan pembangkit melalui kontrak pembelian listrik jangka panjang.

    • Sebelumnya: Dalih Pasangan Gelap Mau Titip ke Panti Asuhan Sebelum Buang Bayi di KA Sancaka
    • Selanjutnya: Kebakaran di TPS Liar Cikeas Terjadi Sejak Pekan Lalu, Asap Kini Muncul Lagi

      Artikel Terkait

      • Polisi: Jangan Lagi Gunakan Pikap untuk Angkut Penumpang
      • PKB Imbau Warga NU Pilih Ketum yang Mengayomi, Bukan Mengumbar Konflik
      • Konflik Adonara, Menteri HAM Dorong Penyelesaian Lewat Pendekatan Budaya
      • KPK Terbitkan Sprindik Baru Kasus Suap Pajak Banjarmasin
      • 2 Gunung Api di NTT Meletus Bersamaan Disertai Lontaran Abu Vulkanik
      • Iran Vs AS Merembet ke Mana-mana
      • BPDP: Riset Sawit Jangan Berhenti di Jurnal, Harus Masuk ke Industri
      • Skandal Kecurangan Tes CPNS Guncang Thailand, Ribuan PNS Terlibat
      • Rahmat Dimas Pembunuh Ojol di Tangerang Ditetapkan Sebagai Tersangka
      • Unggahan Instagram Pertama Messi Usai Gagal Juara Piala Dunia 2026

        Lihat Sekilas

      • 6 Maskapai Akan Terbang dari Bandara Husein Sastranegara, Ini Rutenya
      • Benarkah Beli BBM Pakai QRIS di SPBU Pertamina Minimal Rp 50.000? Ini Penjelasannya
      • RUU Daerah Kepulauan Bakal Koreksi Pembangunan Berorientasi Daratan
      • Prabowo Buka Sidang Kabinet: Kita Evaluasi Apa yang Sudah Dikerjakan
      • Misteri Kerangka Tanpa Kepala di Pantai Legundi, Polisi Duga Korban Meninggal akibat Tenggelam
      • Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Malaysia dan Vietnam, 4 Orang Tewas
      • Diduga Dicuri, 6 Km Kabel PJU Dishub Banten di 11 Jalan Hilang
      • Singapura Jadi Tempat Belajar Antikorupsi Kepala Daerah RI, Bagaimana Rekam Jejaknya?
      • Prabowo Banggakan Bank Emas Indonesia: Sudah Mengelola 153 Ton Emas!
      • GNK Kritik Hotman Paris: Jangan Seret Nama Presiden untuk Bela Febrie
      • Copyright © 2026 Powered by Google Borong Pasokan Listrik dari Pembangkit Surya Raksasa,Vista Notebook   sitemap