Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Kesehatan >Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan Terbesar bagi Pejuang Kanker

    Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan Terbesar bagi Pejuang Kanker

    Waktu: 2026-09-12 18:57:32 Sumber: Vista Notebook Penulis: Pendidikan

    "Anda ingin seluruh keluarga menjadi sebuah komunitas yang saling mendukung. Sebenarnya, alasan nomor satu mengapa orang bisa hidup lebih lama adalah karena mereka memiliki komunitas yang suportif," ujar Dr. See dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta pada Kamis (16/07).

    Komunitas yang suportif berarti memiliki orang-orang yang selalu hadir ketika seseorang menghadapi tekanan hidup. Dukungan tersebut bisa datang dari mana saja, baik itu pasangan, anak, sahabat, maupun keluarga besar yang memberikan rasa aman dan diterima.

    Stres kronis dapat menjadi beban yang berat

    Dalam praktiknya sebagai dokter onkologi, Dr. See sering mendampingi pasien selama bertahun-tahun, hingga mengenal perjalanan hidup mereka di luar penyakit kanker.

    Ia menyaksikan pasien menghadapi perceraian, kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, hingga persoalan kesehatan mental yang berlangsung dalam waktu lama. Menurutnya tekanan seperti itu lah yang lebih sering menjadi perhatian dibanding diagnosis kanker itu sendiri.

    "Saya melihat begitu banyak tekanan hidup dan tekanan dalam keluarga (pada pasien). Bukan terlalu banyak masalah keuangan, tetapi lebih banyak masalah keluarga dan kesehatan mental," tutur Dr. See

    Keluarga perlu menjadi tempat yang aman

    Dr. See kemudian menceritakan salah satu pasien yang telah didampinginya selama 11 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, pasien hidup di tengah tekanan akibat suami yang berselingkuh dan anak yang mengalami gangguan kesehatan mental.

    Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bagaimana stres kronis dapat terus menguras kondisi fisik maupun emosional seseorang. Oleh karena itu, keluarga seharusnya menjadi tempat untuk saling menguatkan, bukan justru menambah tekanan.

    Ia menilai banyak orang dari Generasi X dan sebagian milenial tumbuh dengan kebiasaan mengutamakan kebutuhan semua orang di sekitarnya, tetapi melupakan dirinya sendiri.

    Dukungan sederhana, seperti memberi ruang bagi orangtua untuk beristirahat atau memastikan mereka tidak memikul semua beban sendirian, dapat membantu pasien terus bertahan.

    Menemani juga merupakan bentuk perawatan

    Bagi Dr. See, perasaan didengar dan ditemani selama menjalani pengobatan juga dibutuhkan oleh pasien kanker, bukan terapi medis saja.

    Ia memaparkan, sebagian besar pasien justru tidak mengingat detail obat yang diberikan selama masa pengobatan. Namun, yang mereka ingat adalah bagaimana mereka diperlakukan selama proses tersebut.

    "Sebagai dokter, saya melihat bahwa mereka tidak selalu ingat nama obat atau jenis terapi. Yang mereka ingat adalah apakah mereka merasa didengar, apakah mereka merasa ditemani, apakah mereka merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar diagnosis," tulis Dr. See dalam refleksi pribadinya.

    Dalam perjalanan melawan kanker, dukungan keluarga dan komunitas menjadi bagian penting yang membantu pasien untuk tetap merasa memiliki harapan dan kualitas hidup yang baik.

    • Sebelumnya: I.League Rombak Kalender Kompetisi, League Cup Hadir Mulai November
    • Selanjutnya: BPJPH Tegaskan Visi Besar Prabowo Jadikan Halal Kekuatan Ekonomi Dunia

      Artikel Terkait

      • KPK Jadwalkan Periksa Anggota BPK Bobby Rizaldi Pekan Ini
      • Pencarian 25 Korban KM Nurul Salsa yang Hilang Diperluas hingga 448 Mil Laut Persegi
      • Indonesia Tambah 3 Negara Bebas Visa Kunjungan, Apa Saja?
      • Pesta Hidup Berseri Diramaikan 500 Peserta, Gaungkan Pentingnya Gaya Hidup Sehat
      • AHY Ungkap Rencana Pembangunan Infrastruktur Bali, Transportasi Massal hingga Taksi Air
      • Pimpinan KPK Sebut Kasus Febrie Tak Bisa Diambil Alih dengan Sembarangan
      • Ramai-ramai Anggota DPR Cecar WTP untuk BGN Era Dadan: Dibikin-bikin?
      • Pengalaman Dedi Kurniawan Kuliah Kedokteran Gigi di Jerman: Buku Gratis, Rp 7 Juta per Semester
      • Hotman Paris Sebut Kasus ASABRI Mulai Sebelum Febrie Adriansyah Jadi Jampidsus
      • Mandatori E20 pada 2028, Pemerintah Buka Peluang Swasta Bangun Pabrik Bioetanol

        Lihat Sekilas

      • Bogor Diguyur Hujan Deras Setelah Berhari-hari Kering, Warga Senang
      • Argentina Si Antagonis Piala Dunia, Kenapa Dibenci Banyak Orang?
      • Usai Tikam 2 Pemuda di Samarinda, Pelaku Buang Pisau ke Bak Sampah
      • Sumur Mengering, Warga Blitar Terpaksa Beli Air untuk Kebutuhan Dasar
      • Hari Keadilan Internasional, Sumarsih Tagih Janji Negara Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM
      • 10 Makanan Penutup Terenak di Indonesia Versi TasteAtlas
      • FIFA Buka Investigasi Keributan Argentina Vs Spanyol di Laga Final, Apa Sanksi yang Mengintai?
      • Sering Self-Reward dengan Belanja Makeup? Hati-hati Impulsive Buying
      • Cerita Sailah, dari Tanah ke Hunian Layak Berkat Bantuan Pemprov Jateng
      • FIFA Hadirkan Tradisi Baru, Pemenang Final Piala Dunia 2026 Bakal Diberi Cincin Juara
      • Copyright © 2026 Powered by Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan Terbesar bagi Pejuang Kanker,Vista Notebook   sitemap