Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Bisnis >Penurunan Tanah Capai 16 cm Per Tahun, Bappeda Ungkap Ancaman Rob Pantura Jateng

    Penurunan Tanah Capai 16 cm Per Tahun, Bappeda Ungkap Ancaman Rob Pantura Jateng

    Waktu: 2026-07-29 16:18:35 Sumber: Vista Notebook Penulis: Bisnis

    Penurunan muka tanah menjadi salah satu faktor yang memperparah ancaman rob di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

    Di Kota Semarang, penurunan muka tanah disebut mencapai rata-rata sekitar 12 sentimeter per tahun, sedangkan di Demak dan Pekalongan, penurunannya mencapai 16 sentimeter per tahun.

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah Yusmanto mengatakan, penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Pantura terjadi dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai kondisi tanah dan penggunaan air tanah di setiap daerah.

    "Kalau di Kota Semarang ini berkisar rata-rata 12 sentimeter per tahun. Kalau Demak itu mungkin lebih dalam lagi sampai 16. Kemudian kalau yang Pekalongan kurang lebih sampai 16 juga," kata Yusmanto saat dikonfirmasi, Senin (20/7/2026).

    Hal yang memperparah penurunan muka tanah

    Dia menilai penurunan muka tanah tersebut diperparah dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

    Kondisi itu membuat wilayah Pantura menghadapi ancaman ganda, yakni tanah yang terus ambles sementara permukaan laut mengalami kenaikan.

    "Tanahnya ambles, lautnya naik. Jadi kalau kita lihat di Pantai Utara ini dari Brebes sampai Rembang aslinya semuanya kena," ujar dia.

    Yusmanto mengatakan, dampak paling parah terjadi di sejumlah wilayah seperti Tegal, Pekalongan, Semarang dan Demak.

    “Kalau Pantura ini kena abrasi dan pengaruh perubahan iklim, potensi ekonominya yang akan hilang juga besar,” bebernya.

    Dia mengungkapkan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan muka tanah adalah pengambilan air tanah.

    Kondisi itu disebut terlihat di Pekalongan yang memiliki industri batik dengan kebutuhan air bersih cukup tinggi.

    "Kalau Pekalongan karakteristiknya kan dia diambil air tanahnya untuk batik. Batik itu sebenarnya kebutuhan air tawarnya, air bersihnya untuk mencuci berkali-kali itu memang cukup tinggi," katanya.

    Perlu upaya mengurangi pengambilan air tanah

    Yusmanto menilai, upaya mengurangi pengambilan air tanah harus diikuti dengan penyediaan sumber air alternatif bagi masyarakat dan industri.

    Ia mencontohkan penyediaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Petanglong untuk memenuhi kebutuhan air tanpa bergantung pada air tanah.

    Namun, penyediaan air baku juga menghadapi tantangan karena kapasitas bendungan yang belum mencukupi sehingga terdapat potensi kekeringan selama sekitar empat bulan.

    "Karena kapasitas bendungannya belum ada sehingga ada potensi 4 bulan kering. Nah, itu tantangannya," ujarnya.

    Yusmanto mengatakan, ancaman rob di Pantura tidak dapat ditangani hanya dengan pembangunan tanggul tetapi juga pengendalian pengambilan air tanah serta menyediakan sumber air alternatif.

    • Sebelumnya: [POPULER OTOMOTIF] Komparasi Motor Listrik VinFast dan Polytron Fox 350, Bocoran Innova Zenix
    • Selanjutnya: Gunung Anak Krakatau Mereda tapi Masih Siaga, Erupsi Terakhir 11 Juli 2026

      Artikel Terkait

      • Tabrak Tong Sampah saat Kabur, 2 Maling Motor Diamuk Massa di Jaksel
      • Mobil Oleng Tabrak 'Pantat' Truk di Tol Singosari-Surabaya, 5 Orang Tewas
      • Prediksi Skor Perancis Vs Inggris di Perebutan Peringkat 3 Piala Dunia 2026, Kickoff 04.00 WIB
      • Tegang! Lebih dari 400 Drone Ukraina Diluncurkan ke Moskow
      • Di Depan Mensos, Ortu Siswa Sekolah Rakyat Pasuruan Ucapkan Ikrar Mandiri
      • Massa Demo Mulai Orasi di Medan Merdeka Selatan, Lalin Arah Gambir Ditutup
      • Harga Pasaran Spanyol Vs Argentina di Final Piala Dunia 2026
      • Polisi Tangkap 3 Pelaku Tawuran Bacok Lawan hingga Luka di Jakut
      • Kasus WNI Kabur saat Tur di Korsel Bukan yang Pertama, Pernah Terjadi di AS dan Jepang
      • Komisi III DPR Pastikan KPK Ikut Supervisi Usut 3 Kasus Korupsi Jerat Febrie

        Lihat Sekilas

      • Jaksa Minta Hakim Tolak Eksepsi dr Tifa, Minta Sidang Lanjut ke Pembuktian
      • Sopir Truk Diduga Microsleep, Picu Kecelakaan Beruntun 6 Kendaraan di JORR
      • Korban Galodo Padang Khawatir Huntap Jauh dari Sawah: Kalau Jauh, Biaya Bensin Bertambah
      • Ingin Bangun 30 Pabrik E10, Prabowo: India dan Brasil Saja Bisa, Masa Indonesia Enggak?
      • Polda Metro Apresiasi Loyalitas Tanpa Batas Purnawirawan Polri
      • Pengamat: TPA Terbakar Bukan karena Kemarau, tapi Tata Kelola Buruk
      • Yusril soal Tarif Rp 5 Juta untuk Lepas Status WNI: PNBP, Dipatuhi Saja
      • Dalih Pasangan Gelap Mau Titip ke Panti Asuhan Sebelum Buang Bayi di KA Sancaka
      • Putusan MK Soal Izin Tambang Tak Boleh Penunjukan Langsung, Ketua PBNU: Bukan untuk Ormas
      • Proyek Perbaikan Jl Kebon Sirih Jakpus Ditargetkan Selesai September 2026
      • Copyright © 2026 Powered by Penurunan Tanah Capai 16 cm Per Tahun, Bappeda Ungkap Ancaman Rob Pantura Jateng,Vista Notebook   sitemap