Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Wisata
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Berita >Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

    Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

    Waktu: 2026-09-12 17:40:09 Sumber: Vista Notebook Penulis: Teknologi

    Kasus ledakan bom rakitan oleh seorang siswa MAN 3 Kota Padang membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem deteksi dini kekerasan di lingkungan institusi pendidikan.

    Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menegaskan bahwa riset kekerasan di sekolah menunjukkan pelaku hampir tidak pernah "tiba-tiba meledak”.

    Hal ini dipertegas oleh pernyataan guru dan teman kelas pelaku berinisial R, mereka menilai pelaku merupakan siswa pendiam yang tidak menonjol.

    Namun ternyata dibalik itu, hampir selalu ada sinyal awal, terutama yang disebut sebagai leakage atau kebocoran niat.

    "Kebocoran niat ini bisa lewat ucapan sambil lalu, tulisan, atau unggahan di media sosial. Sering kali hal ini diketahui oleh teman sebaya, namun tidak pernah sampai ke telinga orang dewasa atau guru," ungkap Wawan kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

    Pernyataan ini sesuai dengan keterangan teman sekelas pelaku, yang menyebut bahwa sebelum melakukan aksi, R selaku memposting bahan untuk merakit bom di media sosial.

    Sinyal lain yang kerap lolos dari pengamatan adalah penarikan diri yang makin dalam, fiksasi atau ketertarikan baru pada tema-tema kekerasan, hingga munculnya "ketenangan" mendadak yang sebenarnya merupakan fase kepasrahan.

    Wawan mengkritik sistem pengawasan sekolah yang dinilai salah fokus dalam membaca dinamika psikologis murid.

    "Akar masalahnya, sekolah kita cenderung terlatih mendeteksi pelanggaran yang berisik, bukan penderitaan yang senyap. Jika ada klaim 'tidak ada laporan perundungan', itu hampir selalu berarti tidak ada saluran pelaporan yang dipercaya oleh siswa, bukan berarti perundungan itu tidak ada," tegasnya.

    Bahaya Group Polarization dan Peran Media

    Selain faktor internal sekolah, Wawan juga menyoroti bahaya ruang digital dan pola pemberitaan media.

    Di dunia maya, keberadaan grup daring yang homogen dapat memicu group polarization (polarisasi kelompok), di mana sikap anggotanya bergeser menjadi makin ekstrem.

    Anonimitas di internet menurunkan rem sosial dan menormalkan hal-hal yang di dunia nyata dianggap tabu.

    "Yang paling merusak empati adalah dehumanisasi. Calon korban hanya hadir sebagai abstraksi—'mereka, para perundung'—bukan sebagai manusia konkret. Ironisnya, bagi remaja yang terisolasi, komunitas daring yang memvalidasi rencana kekerasannya justru menjadi komunitas pertama yang mau menerimanya," jelas Wawan.

    Di sisi lain, Wawan mengingatkan media massa agar berhati-hati dalam membingkai kasus ini.

    Pemberitaan kasus serupa di masa lalu yang terlalu detail dan luas rentan berfungsi sebagai cetak biru (model) bagi remaja lain yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya.

    "Liputan yang terlalu mendetail menyediakan naskah siap pakai. Remaja yang terluka tidak perlu mengarang solusinya sendiri, mereka tinggal meniru narasi yang beresonansi dengan luka mereka. Cara media membingkai kasus ini sekarang akan menentukan ada-tidaknya peniru (copycat) berikutnya," tutup Wawan.

    • Sebelumnya: Nomor Peneror Bom SDN Srengseng Sawah Diduga Juga Pernah Teror Warga
    • Selanjutnya: Ganda Monster China Mundur, Ana/Trias Lolos Perempat Final Japan Open

      Artikel Terkait

      • Saat Mobilitas Masyarakat Kian Dinamis, Akses Pembiayaan Kendaraan Semakin Dibutuhkan
      • Gunung Karangetang Sulut Erupsi, Lontarkan Material Pijar
      • Penyekap Wanita di Bekasi Ternyata 2 Orang, Pelaku Utama Masih Buron
      • Bukan Sekadar Skincare, Dokter Ungkap Rahasia Kulit Pria Tetap Sehat dan Terawat
      • Link Live Streaming Piala Dunia 2026 Hari Ini: Final Spanyol Vs Argentina
      • Jasa Marga Dukung Implementasi Biosolar B50 di Rest Area KM 57A
      • Kebocoran Pipa Gas di Surabaya Tertangani, Pasokan Tetap Normal
      • Pemobil di Chili Tabrak Kerumunan Festival, 6 Orang Tewas
      • KPK Tak Banding Vonis 2 Tahun Penyuap Pejabat Bea Cukai Rp 91,7 M
      • Pidato Perdana Andy Burnham sebagai PM Inggris: Janji Akhiri Tunawisma

        Lihat Sekilas

      • Raja Felipe VI Sambut Kepulangan Timnas Spanyol, Jutaan Warga Padati Madrid
      • Profil Timnas Spanyol Jelang Final Piala Dunia 2026 Lawan Argentina
      • Pabrik Bukhur di Tangerang Terbakar, Tiga Orang Alami Sesak Napas
      • Industri Kosmetik Indonesia Tumbuh Pesat, Riset Ilmiah Jadi Kunci Daya Saing
      • Cegah Truk ODOL Masuk Jalan Protokol Jakarta, Jembatan Timbang Perlu Ditambah
      • Jawab Rumor Setelah 27 Tahun, Elaine Ng Sebut Jackie Chan Tak Pernah Meminta Tes DNA Putrinya
      • Bukan Sekadar Pesta, Gawai Dayak Jadi Wujud Syukur atas Hasil Panen dan Berkah Hidup
      • Makin Panas! Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi
      • ORI030 Laris Manis, Pemerintah Tambah Kuota Jadi Rp 30 Triliun
      • Kepala BRIN Dapat Tugas Gunakan Teknologi Cari Sumber Air
      • Copyright © 2026 Powered by Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap,Vista Notebook   sitemap